Penanda Perkembangan Fisik, Kognitif dan bahasa anak usia 12 bulan

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments


1) Perkembangan fisik (motorik kasar dan halus)
  • Bisa berjalan atau baru bisa melangkah untuk yang pertama. Dalam masa ini anak mulai belajar keseimbangan.
  • Bisa bermain menyusun balok dan menyatukan puzlle sederhana. 
  • Pada saat ini pula anak sudah pandai menempatkan objek yang sama bentuknya. (Misal memasukan benda ke dalam lubang yang berbentuk sama).
  • Mencoret-coret dengan krayon atau pensil.
  • Kemampuan makan sendiri sudah mulai berkembang.
  • Lebih suka membuka-buka halaman buku.
  • Sudah mulai mencoba menggunakan satu tangan meskipun masih sering menggunakan dua tangan dalam melakukan sesuatu.
  • Sudah bisa memungut benda-benda kecil dengan menggunakan telunjuk dan ibu jarinya.


2) Perkembangan kognitif

  • Sudah mulai bisa mengelompokkan benda berdasarkan bentuk atau warna walaupun masih menggunakan metode dasar.
  • Mulai senang dengan permainan bongkar pasang.
  • Sudah mulai bisa permainan memasukkan gelang pada tiang.

3) Perkembangan bahasa

  • Bisa memahami paling sedikit tiga kata dan maksimal 100 kata, tapi tidak mungkin bisa mengatakan banyak kata-kata selain "mama", "dadada" dan kata-kata ekspresif anak.
  • Dapat mengikuti satu perintah sederhana, misal : "ambil itu".
  • Memahami kata "jangan" atau "tidak" , tetapi sering kali tidak dihiraukannya.

8 sikap yang membahayakan perkembangan anak

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Perkembangan Anak

(1) Posesif 
Yaitu melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab anak serta selalu cepat memenuhi semua keinginan anak .

(2) Memanjakan 
Yaitu memperlakukan anak berlebihan serta selalu menuruti permintaan anak tanpa ada pendidikan kemandirian di dalamnya.

(3) Keras 
Yaitu Sanksi yang diberikan kepada anak tidak sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan anak. Bahkan cenderung berlebihan sanksi yang diberikan secara fisik maupun fsikis.

(4) Mendominasi 

Yaitu intervensi yang berlebihan terhadap urusan anak sehingga anak menjadi lemah terhadap masalah yang dihadapinya.

(5) Mengucilkan / meremehkan 

Yaitu tidak ada penghargaan atau motivasi atas prestasi anak.

(6) Diskriminatif 

Yaitu membedakan dan membandingkan anak dengan anak lain.

(7) Bimbang/keraguan 

Yaitu Kebimbangan dan keraguan terhadap keputusan yang membingungkan anak.

(8) Celaan 

Yaitu Gempuran kalimat negatif terhadap anak dari lingkungan sekitarnya.

Karakteristik Perkembangan Anak menurut Isjoni

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Perkembangan Anak
Secara umum anak usia dini dapat dikelompokkan dalam usia (0-1 tahun), (2-3 tahun), dan (4-6 tahun) (Isjoni, 2011) dengan karakteristik perkembangan anak sebagai berikut :

(1) Perkembangan Anak Usia 0-1 tahun

Merupakan masa bayi namun perkembangan fisik mengalami kecepatan yang sangat luar biasa. Karakteristik usia ini yaitu :
a) Mempelajari keterampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan.

b) Mempelajari keterampilan menggunakan pancaindra.

c) Mempelajari komunikasi sosial. Bayi baru lahir siap melaksanakan kontak sosial dengan lingkungannya. Komunikasi responsif dari orang dewasa akan mendorong dan memperluas respon verbal dan non verbal bayi.

(2) Perkembangan Anak Usia 2-3 tahun


Terdapat beberapa kesamaan karakteristik dengan masa sebelumnnya (0-1 th) yang secara fisik masih mengalami pertumbuhan yang pesat. Karakteristik usia ini yaitu :

a) Sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada sekitarnya. Anak memiliki kekuatan observasi yang tajam dan keinginan belajar yang luar biasa. Eksplorasi tersebut merupakan proses belajar yang efektif bagi mereka.

b) Mulai mengembangkan kemampuan berbahasa. Bermula dari berceloteh kemudian mampu mengucapkan satu dua kata dan kalimat yang belum jelas maknanya. Anak terus belajar dan berkomunikasi, memahami pembicaraan orang lain dan belajar mengungkapkan isi hati dan pikirannya.

c) Mulai belajar mengembangkan emosi. Perkembangan emosi anak didasarkan pada bagaimana lingkungan memperlakukan dia. Emosi bukan ditentukan oleh bawaan, namun lebih banyak pada lingkungan.

(3) Perkembangan Anak Usia 4-6 tahun

Karakteristik anak pada usia ini yaitu :

a) Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal ini bermanfaat untuk pengembangan otot-otot kecil maupun besar seperti memanjat, melompat, dan berlari.

b) Perkembangan bahasa juga semakin baik. Anak sudah mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikirannya dalam batas-batas tertentu seperti meniru dan menhulang pembicaraan.

c) Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditujukan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini terkait dari seringnya anak menanyakan segala sesuatu yang dilihat.

d) Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial, walaupun aktivitas bermain dilakukan anak secara bersama-sama.

AKU MANDIRI

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments




Anak Mampu Menjajaga Diri Sendiri



Anak Mandiri

Profile Anak Indonesia Harapan

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments


anak harapan
Pembangunan PAUD adalah upaya dasar dan komitmen untuk mewujudkan anak Indonesia sesuai harapan (AIH).

Anak Indonesia harapan memiliki sepuluh ciri utama (dasa citra anak Indonesia), yaitu :
1) Beriman
2) Bertaqwa
3) Berakhlak mulia
4) Sehat
5) Cerdas
6) Jujur
7) Bertanggungjawab
8) Kreatif
9) Percaya diri
10) Cinta tanah air

Keseluruhan upaya pembangunan PAUD ditujukan untuk mewujudkan sepuluh ciri tersebut pada setiap anak Indonesia. Meletakkan dasa citra merupakan dasar untuk mengantarkan anak siap mengikuti pendidikan lebih lanjut dan siap memasuki lingkungan lehih luas. Lebih jauh menjadi fundamen terpenuhinya SDM Indonesia berkualitas dan komponen investasi pembangunan bangsa.

Sumber : Kerangka Besar Pembangunan PAUD Indonesia Periode 2011-2025

Berbagai bentuk kurikulum PAUD

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Kurikulum
Ada berbagai bentuk organisasi kurikulum yang dikembangkan oleh para ahli dalam pendidikan yaitu  :

1. Kurikulum terpisah-pisah

Artinya mata pelajaran mempunyai kurikulum tersendiri dan satu dengan lainnya tidak ada keterkaitan.

2. Kurikulum saling berkaitan

Antara masing-masing mata pelajaran ada keterkaitan, antara dua mata pelajaran masih ada kaitannya. Dengan demikian anak mendapat kesempatan untuk melihat keterkaitan antar mata pelajaran. Sehingga anak masih dapat belajar mengintegrasikan walaupun hanya antara dua mata pelajaran saja.

 3. Kurikulum terintegrasikan

Falam kurikulum ini anak mendapat pengalaman luas, karena antara satu mata pelajaran dengab mata pelajaran lainnya saling ada keterkaitan. Dengan demikian seluruh mata pelajaran merupakan sayu kesatuan yang utuh.

Martin Luther

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Marthin Luther hidup pada tahun 1483-1546. Marthin Luther yang pertama kali menunjukkan perlunya sekolah. Ia menekankan bahwa sekolah digunakan sebagai sarana untuk mengajar anak membaca. 

Marthin Luther berkeyakinan bahwa keluarga sebagai institusi yang paling penting untuk membuat dasar pendidikan dan perkembangan bagi anak.

Dua pandangan ini menunjukkan bahwa dia menempatkan pendidikan sebagai suatu yang penting dalam hidup anak. Tanpa pendidikan anak tidak akan mendapatkan bekal bagi hidupnya kelak.

Agar anak memperoleh bekal yang maksimal, maka sekolah dengan keluarga perlu bermitra, dan perlu dijadikan sarana religius serta penegak moral.

Jatim Terapakan PAUD Holistik

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Ketua Umum Tim Penggerak PKK Prov. Jatim Nina Soekarwo mengatakan, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu program prioritas pemerintah dalam mewujudkan generasi emas Indonesia.
 
Perluasan akses dan mutu layanannya merupakan strategi dalam meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan anak usia dini.

Untuk itu, kerjasama semua komponen masyarakat dan pemangku kepentingan perlu dibangun dan dikembangkan.

 “Jatim merupakan provinsi terdepan dalam mengembangkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Holistik Integratif. Kami telah mengeluarkan Pergub No. 63 tentang PAUD Holistik Integratif umum terpadu di Tahun 2011 Jatim, sementara Peraturan Presiden (Perpres) baru diterbitkan No. 60 tahun 2013,” ujarnya ditemui seusai menghadiri Lokakarya Bunda Paud Se- Indonesia di Taman Impian Jaya Ancol Jakarta, Rabu (4/6).

Bude Karwo sapaan akrabnya menjelaskan, PAUD Holistik Jatim dalam tugasnya tidak hanya memberikan pembelajaran dan pendidikan saja namun mereka diajarkan cara pola pengasuhan anak yang benar, cara peningkatan pengembangan gizi balita hingga peningkatan kualitas pendidikan orang tua (Smart Parenting).

Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, PAUD dikenal khusus untuk anak usia dini. Sedangkan, PAUD Holistik di Jatim lebih dikenal dengan sebutan Taman Posyandu. Taman Posyandu ini merupakan bagian dari PAUD yang telah terintegrasi dengan lembaga-lembaga pendidikan bagi anak usia dini.

 “Jatim akan terus concern meningkatkan pendidikan khususnya untuk anak usia dini. Kita melihat bahwa APK di Jatim untuk usia 3-6 tahun mencapai 84,46 persen jauh diatas nasional yang hanya mencapai sebesar 63 persen. Semoga ke depan bisa lebih ditingkatkan lagi,” imbuhnya.

Ke depan, Bude Karwo mengharapkan agar program PAUD lebih berupaya untuk meningkatkan kualitas layanan.  Salah satu caranya yakni dengan cara melatih semua kader Posyandu yang selama ini tidak hanya sekadar bertugas sebagai kader Posyandu, tetapi sebagai Bunda PAUD yang mengerti dan memahami kebutuhan anak usia dini. Sehingga mereka perlu diberikan pelatihan, pendampingan, hingga orientasi teknis mutu layanan taman posyandu melalui program PAUD Holistik.


by. seruu.com

Tepuk Mandi

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Tepuk PAUD


Tepuk Mandi ....... prok-prok-prok

Ambil gayung ....... prok-prok-prok

Isi Air .................. Prok-prok-prok

Jebur - jebur ....... iiiiiiih dingin


Buku Islamic Character Building

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Buku Islamic Character Building
Detail
Judul :Islamic Character Building
Penulis :Dr. Asep Zaenal Ausop, M.Ag
Penerbit     :Salamdani
Isi/Berat:1 Kg
ISBN:978-602-7817-418
Ukuran :15 cm x 3 cm 23 cm



Sinopsis

Sebagai seorang Muslim, persiapan apa yang harus kita lakukan untuk menjadi pribadi yang prima tersebut? Sesungguhnya untuk melaksanakan tugasnya, manusia telah dibekali pedoman hidup (Al-Quran dan hadis). Islam mengajarkan kita untuk menjadi hamba yang saieh dan manusia yang cerdas dalam memanfaatkan berbagai karunia dari Allah Swt.. Perkembangan kemajuan teknologi informasi di dunia semakin pesat dan persaingannya semakin ketat. Untuk menghadapi tantangan zaman tersebut, kita harus menjadi pribadi yang berkualitas prima dalam aspek spiritual dan jasmani. 

Buku ini mengurai banyak hal yang mampu menjadikan seorang Muslim berkarakter Qurani (QuranicCharacter), seperti:
  • Islam sebagai way of life yang diwajibkan Allah kepada manusia.
  • Hakikat manusia; siapa manusia itu, tujuan hidup manusia, dan tugas manusia dalam kehidupan.
  • Aturan hukum yang harus dipahami manusia dalam bertugas sebagai khalifah fit ardh.
  • Etika manusia kepada Sang Pencipta, sesama manusia, dan makhluk lainnya.
  • Panduan membangun peradaban dengan ilmu agama dan ilmu sains.
Membaca buku ISLAMIC CHARACTER BUILDING sampai tuntas akan meng-obati dahaga Anda akan informasi mengenai pribadi Muslim yang prima. Pribadi Insan Kamil yang mampu. menjadi hamba yang saleh, manusia yang berbudi pekerti luhur, dan manusia yang memanfaatkan teknologi demi ke-baikanbersama.

Untuk pemesanan klik >> PESAN

Format formulir pendaftaran calon peserta didik baru PAUD

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments


Format Formulir pendaftaran


Berikut ini adalah contoh format formulir pendaftaran untuk calon peserta didik baru PAUD.

KOP SURAT

Tahun Ajaran  : .......................................
FORMULIR PENDAFTARAN
KETERANGAN CALON PESERTA DIDIK
1.       Nama Peserta Didik           
a.       Lengkap                                        : .........................................................................................................
b.       Panggilan                                      : .........................................................................................................
2.       Jenis Kelamin                                                       : Laki-laki / Perempuan *)
3.       Kelahiran             
a.       Tempat                                          : .........................................................................................................
b.       Tanggal                                         : .........................................................................................................
4.       Agama                                                                   : .........................................................................................................
5.       Kewarganegaraan                                               : WNI / WNA / Keturunan *)
6.      

Buku : Yuk, Jadi Orangtua Shalih !

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Judul :Yuk, Jadi Orangtua Shalih !
Penulis:Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Penerbit      :» MIZAN • 
Isi:-
ISBN:978-602-9255-362
Ukuran:17 x 19 cm

Sinopsis

Orangtua biasa, memberi tahu … Orangtua baik, menjelaskan … Orangtua bijak, meneladani … Orangtua cerdas, menginspirasi … Setiap Ayah-Bunda mendambakan anak shalih. Itulah hadiah terindah bagi setiap orangtua. Tapi bagaimanakah caranya mendapatkan anak yang shalih? 
Buku ini hadir untuk menjawab pertanyaan itu, dengan beranjak dari keyakinan bahwa diperlukan orangtua shalih untuk menghasilkan anak shalih. Ayah-Bunda bisa menjadi orangtua shalih dengan cara memaksimalkan lima karunia yang telah dimiliki: karunia belajar, karunia konsistensi, karunia kiblat, karunia mendengarkan, dan karunia al-shaff√Ęt. Ditulis oleh seorang trainer yang menekuni dunia keayahbundaan, buku ini—lengkap dengan teori, contoh kasus, dan cara menyelesaikan masalah—akan membimbing Ayah-Bunda dalam mengatasi berbagai kesulitan mengasuh anak. 
Dengan membaca buku ini, insya Allah, Ayah-Bunda akan bisa mewujudkan cita-cita menjadi orangtua yang baik, bijak, dan cerdas. Sebuah perwujudan ikhtiar Ayah-Bunda untuk memiliki anak-anak yang shalih.[] 
“Tak sekadar teori yang dipaparkan oleh Kang Ihsan Baihaqi, contoh-contoh yang mudah dicerna oleh orangtua, tampil menyegarkan dan mencerahkan. Buku ini mengasyikkan!” —Andi Yudha Asfandiyar, pemerhati dan praktisi kreativitas anak & keluarga “Ada banyak buku yang membicarakan bagaimana mencetak anak shalih, tapi hanya sedikit yang serius mengajarkan untuk menjadi orangtua shalih. 
Ini buku wajib untuk semua orangtua!” —Irfan Amalee, penulis Islam for Kids dan penggagas Ensiklopedi Bocah Muslim.

Pemesanan lewat Contact di sini : >> PESAN

Video Senam PAUD

Posted by Setiadi Susilo On 1 comments

Video senam karya 
STKIP PANCA SAKTI


video

Kurikulum 2013 menurut Mohammad Nuh

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Oleh Mohammad Nuh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
Artikel ini Sudah Dimuat di Harian Kompas, Kamis, 7 Maret 2013

Dalam beberapa bulan terakhir, harian Kompas memuat tulisan dari mereka yang pro ataupun kontra terhadap rencana implementasi Kurikulum 2013. Saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas berbagai pandangan tersebut. 
 
Saya berkesimpulan, mereka yang mempertanyakan kurikulum 2013 adalah karena ada perbedaan cara pandang atau belum memahami secara utuh konsep kurikulum berbasis kompetensi yang menjadi dasar Kurikulum 2013.  Secara falsafati, pendidikan adalah proses panjang dan berkelanjutan untuk mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta, beserta segenap isi dan peradabannya.


Dalam UU Sisdiknas, menjadi bermanfaat itu dirumuskan dalam indikator strategis, seperti beriman-bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam memenuhi kebutuhan kompetensi Abad 21, UU Sisdiknas juga memberikan arahan yang jelas, bahwa tujuan pendidikan harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga kompetensi, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan adalah manusia seutuhnya. Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi himpunan kompetensi dalam tiga ranah kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan). Di dalamnya terdapat sejumlah kompetensi yang harus dimiliki seseorang agar dapat menjadi orang beriman dan bertakwa, berilmu, dan seterusnya.
 
Mengingat pendidikan idealnya proses sepanjang hayat, maka lulusan atau keluaran dari suatu proses pendidikan tertentu harus dipastikan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikannya secara mandiri sehingga esensi tujuan pendidikan dapat dicapai. 
 
Perencanaan Pembelajaran
 
Dalam usaha menciptakan sistem perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian yang baik, proses panjang tersebut dibagi menjadi beberapa jenjang, berdasarkan perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Setiap jenjang dirancang memiliki proses sesuai perkembangan dan kebutuhan peserta didik sehingga ketidakseimbangan antara input yang diberikan dan kapasitas pemrosesan dapat diminimalkan.
Sebagai konsekuensi dari penjenjangan ini, tujuan pendidikan harus dibagi-bagi menjadi tujuan antara. Pada dasarnya kurikulum merupakan perencanaan pembelajaran yang dirancang berdasarkan tujuan antara di atas. Proses perancangannya diawali dengan menentukan kompetensi lulusan (standar kompetensi lulusan). Hasilnya, kurikulum jenjang satuan pendidikan.
 
Dalam teori manajemen, sebagai sistem perencanaan pembelajaran yang baik, kurikulum harus mencakup empat hal. Pertama, hasil akhir pendidikan yang harus dicapai peserta didik (keluaran), dan dirumuskan sebagai kompetensi lulusan. Kedua, kandungan materi yang harus diajarkan kepada, dan dipelajari oleh peserta didik (masukan/standar isi), dalam usaha membentuk kompetensi lulusan yang diinginkan. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran (proses, termasuk metodologi pembelajaran sebagai bagian dari standar proses), supaya ketiga kompetensi yang diinginkan terbentuk pada diri peserta didik. Keempat, penilaian kesesuaian proses dan ketercapaian tujuan pembelajaran sedini mungkin untuk memastikan bahwa masukan, proses, dan keluaran tersebut sesuai dengan rencana.
 
Dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi, tak tepat jika ada yang menyampaikan bahwa pemerintah salah sasaran saat merencanakan perubahan kurikulum, karena yang perlu diperbaiki sebenarnya metodologi pembelajaran bukan kurikulum. (Mohammad Abduhzen, “Urgensi Kurikulum 2013”, Kompas, 21/2 dan “Implementasi Pendidikan”, Kompas, 6/3). Hal ini menunjukkan belum dipahaminya secara utuh bahwa kurikulum berbasis kompetensi termasuk mencakup metodologi pembelajaran. 
 
Tanpa metodologi pembelajaran yang sesuai, tak akan terbentuk kompetensi yang diharapkan. Sebagai contoh, dalam Kurikulum 2013, kompetensi lulusan dalam ranah keterampilan untuk SD dirumuskan sebagai “memiliki (melalui mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji,  menalar, mencipta) kemampuan pikir dan tindak yang produktif  dan kreatif, dalam ranah konkret dan  abstrak, sesuai dengan yang  ditugaskan kepadanya.”
Kompetensi semacam ini tak akan tercapai bila pengertian kurikulum diartikan sempit, tak termasuk metodologi pembelajaran. Proses pembentukan kompetensi itu, sudah dirumuskan dengan baik melalui kajian para peneliti, dan akhirnya diterima luas sebagai suatu taksonomi.
 
Pemikiran pengembangan Kurikulum 2013 seperti diuraikan di atas dikembangkan atas dasar taksonomi-taksonomi yang diterima secara luas, kajian KBK 2004 dan KTSP 2006, dan tantangan Abad 21 serta penyiapan Generasi 2045. Dengan demikian, tidaklah tepat apa yang disampaikan Elin Driana, “Gawat Darurat Pendidikan” (Kompas, 14/12/2012) yang mengharapkan sebelum Kurikulum 2013 disahkan, baiknya dilakukan evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya.
 
Mengatakan tidak ada masalah dengan kurikulum saat ini adalah kurang tepat. Sebagai contoh, hasil pembandingan antara materi TIMSS 2011 dan materi kurikulum saat ini, untuk mata pelajaran Matematika dan IPA, menunjukkan, kurang dari 70 persen materi TIMSS yang telah diajarkan sampai dengan kelas VIII SMP.
Belum lagi rumusan kompetensi yang belum sesuai dengan tuntutan UU dan praktik terbaik di dunia, ketidaksesuaian materi matapelajaran dan tumpang tindih yang tidak diperlukan pada beberapa materi matapelajaran, kecepatan pembelajaran yang tidak selaras antarmata pelajaran, dangkalnya materi, proses, dan penilaian pembelajaran, sehingga peserta didik kurang dilatih bernalar dan berfikir. 
 
Kompetensi Inti
 
Kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan pun masih memerlukan rencana pendidikan yang panjang untuk pencapaiannya. Sekali lagi, teori manajemen mengajarkan, untuk memudahkan proses perencanaan dan pengendaliannya, pencapaian jangka panjang perlu dibagi-bagi jadi beberapa tahap sesuai dengan jenjang kelas di mana kurikulum tersebut diterapkan.
 
Sejalan dengan UU, kompetensi inti ibarat anak tangga yang harus ditapak peserta didik untuk sampai pada kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan. Kompetensi inti meningkat seiring meningkatnya usia peserta didik yang dinyatakan dengan meningkatnya kelas.
 
Melalui kompetensi inti, sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan, integrasi vertikal antarkompetensi dasar dapat dijamin, dan peningkatan kemampuan peserta dari kelas ke kelas dapat direncanakan. Sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan multidimensi, kompetensi inti juga memiliki multidimensi. Untuk kemudahan operasionalnya, kompetensi lulusan pada ranah sikap dipecah menjadi dua, yaitu sikap spiritual terkait tujuan membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan kompetensi sikap sosial terkait tujuan membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. 
 
Kompetensi inti bukan untuk diajarkan, melainkan untuk dibentuk melalui pembelajaran mata pelajaran-mata pelajaran yang relevan. Setiap mata pelajaran harus tunduk pada kompetensi inti yang telah dirumuskan. Dengan kata lain, semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari pada kelas tersebut harus berkontribusi terhadap pembentukan kompetensi inti. 
 
Ibaratnya, kompetensi inti merupakan pengikat kompetensi-kompetensi yang harus dihasilkan dengan mempelajari setiap mata pelajaran. Di sini kompetensi inti berperan sebagai integrator horizontal antarmata pelajaran.
 
Dengan pengertian ini, kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran karena tidak mewakili mata pelajaran tertentu. Kompetensi inti merupakan kebutuhan kompetensi peserta didik, sedangkan mata pelajaran adalah pasokan kompetensi dasar yang akan diserap peserta didik melalui proses pembelajaran yang tepat, menjadi kompetensi inti. Bila pengertian kompetensi inti telah dipahami dengan baik, tentunya tidak akan ada kritikan bahwa Kurikulum 2013 adalah salah dengan alasan pada “Kompetensi Inti Bahasa Indonesia” tidak terdapat kompetensi yang mencerminkan kompetensi Bahasa Indonesia, karena memang tidak ada yang namanya kompetensi inti Bahasa Indonesia, sebagaimana yang dipertanyakan Acep Iwan Saidi, “Petisi untuk Wapres” (Kompas, 2/3).
 
Dalam mendukung kompetensi inti, capaian pembelajaran mata pelajaran diuraikan menjadi kompetensi dasar-kompetensi dasar yang dikelompokkan menjadi empat. Ini  sesuai dengan rumusan kompetensi inti yang didukungnya, yaitu dalam kelompok kompetensi sikap spiritual, kompetensi sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan.
 
Uraian kompetensi dasar sedetil ini adalah untuk memastikan bahwa capaian pembelajaran tidak berhenti sampai pengetahuan saja, melainkan harus berlanjut ke keterampilan, dan bermuara pada sikap. 
Kompetensi dasar dalam kelompok kompetensi inti sikap bukanlah untuk peserta didik, karena kompetensi ini tidak diajarkan, tidak dihafalkan, tidak diujikan, tapi sebagai pegangan bagi pendidik, bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran tersebut, ada pesan-pesan sosial dan spiritual yang terkandung dalam materinya. Apabila konsep pembentukan kompetensi ini dipahami, dapat mengurangi bahkan menghilangkan kegelisahan yang disampaikan L. Wiliardjo dalam “Yang Indah dan yang Absurd” (Kompas,  22/2)
 
Kedudukan Bahasa
 
Uraian rumusan kompetensi seperti itu masih belum cukup untuk dapat digunakan, terutama saat merancang kurikulum SD (jenjang sekolah paling rendah), tempat dimana peserta didik mulai diperkenalkan banyak kompetensi untuk dikuasai. Pada saat memulainya pun, peserta didik SD masih belum terlatih berfikir abstrak. Dalam kondisi seperti inilah, maka terlebih dahulu perlu dibentuk suatu saluran yang menghubungkan sumber-sumber kompetensi, yang sebagian besarnya abstrak, kepada peserta didik yang masih mulai belajar berfikir abstrak.
 
Di sini peran bahasa menjadi dominan, yaitu sebagai saluran mengantarkan kandungan materi dari semua sumber kompetensi kepada peserta didik.
 
Usaha membentuk saluran sempurna (perfect channels dalam teknologi komunikasi) dapat dilakukan dengan menempatkan bahasa sebagai penghela mata pelajaran-mata pelajaran lain. Dengan kata lain, kandungan materi mata pelajaran lain dijadikan sebagai konteks dalam penggunaan jenis teks yang sesuai dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Melalui pembelajaran tematik integratif dan perumusan kompetensi inti, sebagai pengikat semua kompetensi dasar, pemaduan ini akan dapat dengan mudah direalisasikan.
 
Dengan cara ini pula, maka pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dibuat menjadi kontekstual, sesuatu yang hilang pada model pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini, sehingga pembelajaran Bahasa Indonesia kurang diminati oleh pendidik maupun peserta didik.
 
Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual, peserta didik sekaligus dilatih menyajikan bermacam kompetensi dasar secara logis dan sistematis. Mengatakan kompetensi dasar Bahasa Indonesia SD, yang memuat penyusunan teks untuk menjelaskan pemahaman peserta didik, terhadap ilmu pengetahuan alam sebagai mengada-ada (Acep Iwan Saidi, “Petisi untuk Wapres”), sama saja dengan melupakan fungsi bahasa sebagai pembawa kandungan ilmu pengetahuan.
 
Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang pernah digagas dalam Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tapi belum terselesaikan karena desakan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Rumusannya berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda dengan kurikulum berbasis materi, sehingga sangat dimungkinkan terjadi perbedaan persepsi tentang bagaimana kurikulum seharusnya dirancang. Perbedaan ini menyebabkan munculnya berbagai kritik dari yang terbiasa menggunakan kurikulum berbasis materi. Untuk itu ada baiknya memahami lebih dahulu terhadap konstruksi kompetensi dalam kurikulum sesuai koridor yang telah digariskan UU Sisdiknas, sebelum mengkritik.

Buku : PROPHETIC LEARNING

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Judul Buku : PROPHETIC LEARNING
Penulis: Dwi Budiyanto
Harga Buku : Rp 40.000.00


Prophetic Learning. Inilah metode mengubah kepribadian Muslim pembelajar (pelajar, santri, mahasiswa, otodidak). Menjadikan para Muslim pembelajar memiliki karakter. Bukan lagi sosok yang hanya mengejar skor nilai di ijazah dan gelar.
Prophetic Learning. Sebuah cara belajar yang menimba dari pengalaman generasi pe-menang, dari khazanah sejarah emas Islam.

Menjadikan para Muslim pembelajar berpres-tasi sekaligus berandil di masyarakat. Sehing-ga, kita tak lagi bertanya-tanya: mengapa ilmu yang di sekolah atau di perguruan tinggi tidak memiliki efek dalam membentuk sikap hidup keseharian pembelajarnya?
Prophetic Learning yang dibicarakan dalam buku ini meliputi:

- Bagaimana menjadi cerdas dengan menata pikiran?
- Bagaimana menjadi cerdas dengan menata mental?
- Bagaimana menjadi cerdas dengan menata sarana belajar?
- Apa dan bagaimana kebiasaan-kebiasaan Muslim Pembelajar?
- Bagaimana menjadi guru inspiratif?
- Mengapa dalam belajar perlu kerja sama?

Pemesanan bisa lewat Kontak Kami di sini >> PESAN