Format formulir pendaftaran calon peserta didik baru PAUD

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments


Format Formulir pendaftaran


Berikut ini adalah contoh format formulir pendaftaran untuk calon peserta didik baru PAUD.

KOP SURAT

Tahun Ajaran  : .......................................
FORMULIR PENDAFTARAN
KETERANGAN CALON PESERTA DIDIK
1.       Nama Peserta Didik           
a.       Lengkap                                        : .........................................................................................................
b.       Panggilan                                      : .........................................................................................................
2.       Jenis Kelamin                                                       : Laki-laki / Perempuan *)
3.       Kelahiran             
a.       Tempat                                          : .........................................................................................................
b.       Tanggal                                         : .........................................................................................................
4.       Agama                                                                   : .........................................................................................................
5.       Kewarganegaraan                                               : WNI / WNA / Keturunan *)
6.      

Buku : Yuk, Jadi Orangtua Shalih !

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Judul :Yuk, Jadi Orangtua Shalih !
Penulis:Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Penerbit      :» MIZAN • 
Isi:-
ISBN:978-602-9255-362
Ukuran:17 x 19 cm

Sinopsis

Orangtua biasa, memberi tahu … Orangtua baik, menjelaskan … Orangtua bijak, meneladani … Orangtua cerdas, menginspirasi … Setiap Ayah-Bunda mendambakan anak shalih. Itulah hadiah terindah bagi setiap orangtua. Tapi bagaimanakah caranya mendapatkan anak yang shalih? 
Buku ini hadir untuk menjawab pertanyaan itu, dengan beranjak dari keyakinan bahwa diperlukan orangtua shalih untuk menghasilkan anak shalih. Ayah-Bunda bisa menjadi orangtua shalih dengan cara memaksimalkan lima karunia yang telah dimiliki: karunia belajar, karunia konsistensi, karunia kiblat, karunia mendengarkan, dan karunia al-shaffât. Ditulis oleh seorang trainer yang menekuni dunia keayahbundaan, buku ini—lengkap dengan teori, contoh kasus, dan cara menyelesaikan masalah—akan membimbing Ayah-Bunda dalam mengatasi berbagai kesulitan mengasuh anak. 
Dengan membaca buku ini, insya Allah, Ayah-Bunda akan bisa mewujudkan cita-cita menjadi orangtua yang baik, bijak, dan cerdas. Sebuah perwujudan ikhtiar Ayah-Bunda untuk memiliki anak-anak yang shalih.[] 
“Tak sekadar teori yang dipaparkan oleh Kang Ihsan Baihaqi, contoh-contoh yang mudah dicerna oleh orangtua, tampil menyegarkan dan mencerahkan. Buku ini mengasyikkan!” —Andi Yudha Asfandiyar, pemerhati dan praktisi kreativitas anak & keluarga “Ada banyak buku yang membicarakan bagaimana mencetak anak shalih, tapi hanya sedikit yang serius mengajarkan untuk menjadi orangtua shalih. 
Ini buku wajib untuk semua orangtua!” —Irfan Amalee, penulis Islam for Kids dan penggagas Ensiklopedi Bocah Muslim.

Pemesanan lewat Contact di sini : >> PESAN

Video Senam PAUD

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Video senam karya 
STKIP PANCA SAKTI


video

Kurikulum 2013 menurut Mohammad Nuh

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Oleh Mohammad Nuh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
Artikel ini Sudah Dimuat di Harian Kompas, Kamis, 7 Maret 2013

Dalam beberapa bulan terakhir, harian Kompas memuat tulisan dari mereka yang pro ataupun kontra terhadap rencana implementasi Kurikulum 2013. Saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas berbagai pandangan tersebut. 
 
Saya berkesimpulan, mereka yang mempertanyakan kurikulum 2013 adalah karena ada perbedaan cara pandang atau belum memahami secara utuh konsep kurikulum berbasis kompetensi yang menjadi dasar Kurikulum 2013.  Secara falsafati, pendidikan adalah proses panjang dan berkelanjutan untuk mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta, beserta segenap isi dan peradabannya.


Dalam UU Sisdiknas, menjadi bermanfaat itu dirumuskan dalam indikator strategis, seperti beriman-bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam memenuhi kebutuhan kompetensi Abad 21, UU Sisdiknas juga memberikan arahan yang jelas, bahwa tujuan pendidikan harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga kompetensi, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan adalah manusia seutuhnya. Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi himpunan kompetensi dalam tiga ranah kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan). Di dalamnya terdapat sejumlah kompetensi yang harus dimiliki seseorang agar dapat menjadi orang beriman dan bertakwa, berilmu, dan seterusnya.
 
Mengingat pendidikan idealnya proses sepanjang hayat, maka lulusan atau keluaran dari suatu proses pendidikan tertentu harus dipastikan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikannya secara mandiri sehingga esensi tujuan pendidikan dapat dicapai. 
 
Perencanaan Pembelajaran
 
Dalam usaha menciptakan sistem perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian yang baik, proses panjang tersebut dibagi menjadi beberapa jenjang, berdasarkan perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Setiap jenjang dirancang memiliki proses sesuai perkembangan dan kebutuhan peserta didik sehingga ketidakseimbangan antara input yang diberikan dan kapasitas pemrosesan dapat diminimalkan.
Sebagai konsekuensi dari penjenjangan ini, tujuan pendidikan harus dibagi-bagi menjadi tujuan antara. Pada dasarnya kurikulum merupakan perencanaan pembelajaran yang dirancang berdasarkan tujuan antara di atas. Proses perancangannya diawali dengan menentukan kompetensi lulusan (standar kompetensi lulusan). Hasilnya, kurikulum jenjang satuan pendidikan.
 
Dalam teori manajemen, sebagai sistem perencanaan pembelajaran yang baik, kurikulum harus mencakup empat hal. Pertama, hasil akhir pendidikan yang harus dicapai peserta didik (keluaran), dan dirumuskan sebagai kompetensi lulusan. Kedua, kandungan materi yang harus diajarkan kepada, dan dipelajari oleh peserta didik (masukan/standar isi), dalam usaha membentuk kompetensi lulusan yang diinginkan. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran (proses, termasuk metodologi pembelajaran sebagai bagian dari standar proses), supaya ketiga kompetensi yang diinginkan terbentuk pada diri peserta didik. Keempat, penilaian kesesuaian proses dan ketercapaian tujuan pembelajaran sedini mungkin untuk memastikan bahwa masukan, proses, dan keluaran tersebut sesuai dengan rencana.
 
Dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi, tak tepat jika ada yang menyampaikan bahwa pemerintah salah sasaran saat merencanakan perubahan kurikulum, karena yang perlu diperbaiki sebenarnya metodologi pembelajaran bukan kurikulum. (Mohammad Abduhzen, “Urgensi Kurikulum 2013”, Kompas, 21/2 dan “Implementasi Pendidikan”, Kompas, 6/3). Hal ini menunjukkan belum dipahaminya secara utuh bahwa kurikulum berbasis kompetensi termasuk mencakup metodologi pembelajaran. 
 
Tanpa metodologi pembelajaran yang sesuai, tak akan terbentuk kompetensi yang diharapkan. Sebagai contoh, dalam Kurikulum 2013, kompetensi lulusan dalam ranah keterampilan untuk SD dirumuskan sebagai “memiliki (melalui mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji,  menalar, mencipta) kemampuan pikir dan tindak yang produktif  dan kreatif, dalam ranah konkret dan  abstrak, sesuai dengan yang  ditugaskan kepadanya.”
Kompetensi semacam ini tak akan tercapai bila pengertian kurikulum diartikan sempit, tak termasuk metodologi pembelajaran. Proses pembentukan kompetensi itu, sudah dirumuskan dengan baik melalui kajian para peneliti, dan akhirnya diterima luas sebagai suatu taksonomi.
 
Pemikiran pengembangan Kurikulum 2013 seperti diuraikan di atas dikembangkan atas dasar taksonomi-taksonomi yang diterima secara luas, kajian KBK 2004 dan KTSP 2006, dan tantangan Abad 21 serta penyiapan Generasi 2045. Dengan demikian, tidaklah tepat apa yang disampaikan Elin Driana, “Gawat Darurat Pendidikan” (Kompas, 14/12/2012) yang mengharapkan sebelum Kurikulum 2013 disahkan, baiknya dilakukan evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya.
 
Mengatakan tidak ada masalah dengan kurikulum saat ini adalah kurang tepat. Sebagai contoh, hasil pembandingan antara materi TIMSS 2011 dan materi kurikulum saat ini, untuk mata pelajaran Matematika dan IPA, menunjukkan, kurang dari 70 persen materi TIMSS yang telah diajarkan sampai dengan kelas VIII SMP.
Belum lagi rumusan kompetensi yang belum sesuai dengan tuntutan UU dan praktik terbaik di dunia, ketidaksesuaian materi matapelajaran dan tumpang tindih yang tidak diperlukan pada beberapa materi matapelajaran, kecepatan pembelajaran yang tidak selaras antarmata pelajaran, dangkalnya materi, proses, dan penilaian pembelajaran, sehingga peserta didik kurang dilatih bernalar dan berfikir. 
 
Kompetensi Inti
 
Kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan pun masih memerlukan rencana pendidikan yang panjang untuk pencapaiannya. Sekali lagi, teori manajemen mengajarkan, untuk memudahkan proses perencanaan dan pengendaliannya, pencapaian jangka panjang perlu dibagi-bagi jadi beberapa tahap sesuai dengan jenjang kelas di mana kurikulum tersebut diterapkan.
 
Sejalan dengan UU, kompetensi inti ibarat anak tangga yang harus ditapak peserta didik untuk sampai pada kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan. Kompetensi inti meningkat seiring meningkatnya usia peserta didik yang dinyatakan dengan meningkatnya kelas.
 
Melalui kompetensi inti, sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan, integrasi vertikal antarkompetensi dasar dapat dijamin, dan peningkatan kemampuan peserta dari kelas ke kelas dapat direncanakan. Sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan multidimensi, kompetensi inti juga memiliki multidimensi. Untuk kemudahan operasionalnya, kompetensi lulusan pada ranah sikap dipecah menjadi dua, yaitu sikap spiritual terkait tujuan membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan kompetensi sikap sosial terkait tujuan membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. 
 
Kompetensi inti bukan untuk diajarkan, melainkan untuk dibentuk melalui pembelajaran mata pelajaran-mata pelajaran yang relevan. Setiap mata pelajaran harus tunduk pada kompetensi inti yang telah dirumuskan. Dengan kata lain, semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari pada kelas tersebut harus berkontribusi terhadap pembentukan kompetensi inti. 
 
Ibaratnya, kompetensi inti merupakan pengikat kompetensi-kompetensi yang harus dihasilkan dengan mempelajari setiap mata pelajaran. Di sini kompetensi inti berperan sebagai integrator horizontal antarmata pelajaran.
 
Dengan pengertian ini, kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran karena tidak mewakili mata pelajaran tertentu. Kompetensi inti merupakan kebutuhan kompetensi peserta didik, sedangkan mata pelajaran adalah pasokan kompetensi dasar yang akan diserap peserta didik melalui proses pembelajaran yang tepat, menjadi kompetensi inti. Bila pengertian kompetensi inti telah dipahami dengan baik, tentunya tidak akan ada kritikan bahwa Kurikulum 2013 adalah salah dengan alasan pada “Kompetensi Inti Bahasa Indonesia” tidak terdapat kompetensi yang mencerminkan kompetensi Bahasa Indonesia, karena memang tidak ada yang namanya kompetensi inti Bahasa Indonesia, sebagaimana yang dipertanyakan Acep Iwan Saidi, “Petisi untuk Wapres” (Kompas, 2/3).
 
Dalam mendukung kompetensi inti, capaian pembelajaran mata pelajaran diuraikan menjadi kompetensi dasar-kompetensi dasar yang dikelompokkan menjadi empat. Ini  sesuai dengan rumusan kompetensi inti yang didukungnya, yaitu dalam kelompok kompetensi sikap spiritual, kompetensi sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan.
 
Uraian kompetensi dasar sedetil ini adalah untuk memastikan bahwa capaian pembelajaran tidak berhenti sampai pengetahuan saja, melainkan harus berlanjut ke keterampilan, dan bermuara pada sikap. 
Kompetensi dasar dalam kelompok kompetensi inti sikap bukanlah untuk peserta didik, karena kompetensi ini tidak diajarkan, tidak dihafalkan, tidak diujikan, tapi sebagai pegangan bagi pendidik, bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran tersebut, ada pesan-pesan sosial dan spiritual yang terkandung dalam materinya. Apabila konsep pembentukan kompetensi ini dipahami, dapat mengurangi bahkan menghilangkan kegelisahan yang disampaikan L. Wiliardjo dalam “Yang Indah dan yang Absurd” (Kompas,  22/2)
 
Kedudukan Bahasa
 
Uraian rumusan kompetensi seperti itu masih belum cukup untuk dapat digunakan, terutama saat merancang kurikulum SD (jenjang sekolah paling rendah), tempat dimana peserta didik mulai diperkenalkan banyak kompetensi untuk dikuasai. Pada saat memulainya pun, peserta didik SD masih belum terlatih berfikir abstrak. Dalam kondisi seperti inilah, maka terlebih dahulu perlu dibentuk suatu saluran yang menghubungkan sumber-sumber kompetensi, yang sebagian besarnya abstrak, kepada peserta didik yang masih mulai belajar berfikir abstrak.
 
Di sini peran bahasa menjadi dominan, yaitu sebagai saluran mengantarkan kandungan materi dari semua sumber kompetensi kepada peserta didik.
 
Usaha membentuk saluran sempurna (perfect channels dalam teknologi komunikasi) dapat dilakukan dengan menempatkan bahasa sebagai penghela mata pelajaran-mata pelajaran lain. Dengan kata lain, kandungan materi mata pelajaran lain dijadikan sebagai konteks dalam penggunaan jenis teks yang sesuai dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Melalui pembelajaran tematik integratif dan perumusan kompetensi inti, sebagai pengikat semua kompetensi dasar, pemaduan ini akan dapat dengan mudah direalisasikan.
 
Dengan cara ini pula, maka pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dibuat menjadi kontekstual, sesuatu yang hilang pada model pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini, sehingga pembelajaran Bahasa Indonesia kurang diminati oleh pendidik maupun peserta didik.
 
Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual, peserta didik sekaligus dilatih menyajikan bermacam kompetensi dasar secara logis dan sistematis. Mengatakan kompetensi dasar Bahasa Indonesia SD, yang memuat penyusunan teks untuk menjelaskan pemahaman peserta didik, terhadap ilmu pengetahuan alam sebagai mengada-ada (Acep Iwan Saidi, “Petisi untuk Wapres”), sama saja dengan melupakan fungsi bahasa sebagai pembawa kandungan ilmu pengetahuan.
 
Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang pernah digagas dalam Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tapi belum terselesaikan karena desakan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Rumusannya berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda dengan kurikulum berbasis materi, sehingga sangat dimungkinkan terjadi perbedaan persepsi tentang bagaimana kurikulum seharusnya dirancang. Perbedaan ini menyebabkan munculnya berbagai kritik dari yang terbiasa menggunakan kurikulum berbasis materi. Untuk itu ada baiknya memahami lebih dahulu terhadap konstruksi kompetensi dalam kurikulum sesuai koridor yang telah digariskan UU Sisdiknas, sebelum mengkritik.

Buku : PROPHETIC LEARNING

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Judul Buku : PROPHETIC LEARNING
Penulis: Dwi Budiyanto
Harga Buku : Rp 40.000.00


Prophetic Learning. Inilah metode mengubah kepribadian Muslim pembelajar (pelajar, santri, mahasiswa, otodidak). Menjadikan para Muslim pembelajar memiliki karakter. Bukan lagi sosok yang hanya mengejar skor nilai di ijazah dan gelar.
Prophetic Learning. Sebuah cara belajar yang menimba dari pengalaman generasi pe-menang, dari khazanah sejarah emas Islam.

Menjadikan para Muslim pembelajar berpres-tasi sekaligus berandil di masyarakat. Sehing-ga, kita tak lagi bertanya-tanya: mengapa ilmu yang di sekolah atau di perguruan tinggi tidak memiliki efek dalam membentuk sikap hidup keseharian pembelajarnya?
Prophetic Learning yang dibicarakan dalam buku ini meliputi:

- Bagaimana menjadi cerdas dengan menata pikiran?
- Bagaimana menjadi cerdas dengan menata mental?
- Bagaimana menjadi cerdas dengan menata sarana belajar?
- Apa dan bagaimana kebiasaan-kebiasaan Muslim Pembelajar?
- Bagaimana menjadi guru inspiratif?
- Mengapa dalam belajar perlu kerja sama?

Pemesanan bisa lewat Kontak Kami di sini >> PESAN

Buku : Mahir Mendongeng

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Judul Buku : Mahir Mendongeng
Penulis : Kak Bimo
Halaman : 264
Dimensi : 12x20 cm
Berat : 200 gram
Harga Buku : Rp 36.000.00


Sinopsis

Dalam buku ini, Kak Bimo, pendongeng favorit anak-anak Indonesia, ini berbagi ilmu secara praktis tentang:

- Rahasia mengubah suara hingga ratusan suara;
- Cara mengatasi grogi;
- Kreasi membuka dan menutup cerita, serta menata alur dan konflik;
- Trik menguasai audiensi dan mengendalikan keributan;
- Bagaimana mengevaluasi kegagalan bercerita;
- Bercerita dengan bermacam-macam peraga;
- Super cepat mencipta cerita;
- Cerita-cerita pilihan plus saran penyajian.

Dengan tips-tips aplikatif, diharapkan lahir para pendongeng yang menyajikan cerita bukan sembarang cerita, melainkan cerita yang bisa membangun karakter bangsa. Buku ini juga cocok bagi para orangtua, pendidik, dan pemerhati anak, sehingga cerita/dongeng tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai sebuah metode mencerdaskan dan menyalehkan anak-anak kita.

Pemesanan bisa melalui Kontak Kami di sini >> PESAN

Struktur Kurikulum PAUD menurut Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013

Posted by Setiadi Susilo On 1 comments

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 yang telah ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 7 Mei 2013, juga menyisipkan bab khusus tentang Kurikulum, yang diletakkan pada Bab XIA. Ada sejumlah pasal menyangkut Kurikulum yang disisipkan di antara Pasal 77 dan Pasal 78 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 yaitu dari Pasal 77A hingga Pasal 77Q.
Disebutkan dalam PP ini, bahwa Kerangka Dasar Kurikulum berisi landasan fisiologis, sosiologis, psikopedagogis, dan yuridis sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Kerangka Dasar Kurikulum ini digunakan sebagai: a. Acuan dalam Pengembangan Struktur Kurikulum tingkat nasional; b. Acuan dalam Pengembangan muatan lokal pada tingkat daerah; dan c. Pedoman dalam Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
“Struktur Kurikulum merupakan pengorganisasian Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, muatan Pembelajaran, mata pelajaran, dan beban belajar pada setiap satuan pendidikan dan program pendidikan,” bunyi Pasal 77B ayat (1) PP No. 32 Tahun 2013.
Menurut PP ini, Struktur Kurikulum PAUD formal berisi program Pengembangan pribadi anak; Struktur Kurikulum untuk satuan pendidikan dasar berisi muatan umum; untuk pendidikan menengah terdiri atas:
a. Muatan umum
b. Muatan peminatan akademik
c. Muatan peminatan kejuruan
d. Muatan pilihan lintas minat/pendalaman minat.
“Muatan umum sebagaimana dimaksud terdiri atas muatan nasional untuk satuan pendidikan, dan muatan lokal untuk satuan pendidikan sesuai dengan potensi dan keunikan lokal,” bunyi Pasal 77B ayat (9) PP tersebut.

Struktur Kurikulum PAUD 

PP ini menjelaskan, Struktur Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) formal berisi program-program Pengembangan nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni. Ketentuan lebih lanjut mengenai Struktur Kurikulum PAUD diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Sementara Struktur Kurikulum SD/MI, SDLB atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas muatan:
a. pendidikan agama;
b. pendidikan kewarganegaraan;
c. bahasa;
d. matematika;
e. ilmu pengetahuan alam;
f. ilmu pengetahuan sosial;
g. seni dan budaya;
h. pendidikan jasmani dan olahraga;
i. keterampilan/kejuruan; dan
j. muatan lokal.
“Muatan sebagaimana dimaksud dapat diorganisasikan dalam satu atau lebih mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan dan program pendidikan,” tegas Pasal 77I Ayat (2)Peraturan Pemerintah nomor 32 Tahun 2013
Adapun untuk Struktur Kurikulum SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas muatan:
a. pendidikan agama;
b. pendidikan kewarganegaraan;
c. bahasa;
d. matematika;
e. ilmu pengetahuan alam;
f. ilmu pengetahuan sosial;
g. seni dan budaya;
h. pendidikan jasmani dan olahraga;
i. keterampilan/kejuruan; dan
j. muatan lokal.
“Ketentuan lebih lanjut mengenai Struktur Kurikulum SMP/Mts/SPMLB atau bentuk lain diatur dalam Peraturan Menteri,” bunyi Pasal 77J Ayat (3) PP ini.

Untuk PP Nomor 32 Tahun 2013 download di sini >>  Download

Peraturan Menteri pendidikan nasional Nomor 58 tahun 2009 Tentang Standar pendidikan anak usia dini >> DOWNLOAD

Kurikulum TK Islam

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Sekarang ini banyak orang tua muslim yang memilih menyekolahkan buah hatinya ke lembaga pendidikan formal anak usia dini atau TK Islam. Hal ini bertujuan agar semenjak dini anak-anak telah mempunyai dasar iman dan keagamaan yang kuat sehingga terbawa hingga ke kehidupan dewasanya kelak. TK-TK Islam ini menerapkan kurikulum TK Islam dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah sehari-hari. Apa yang dimaksud dengan kurikulum Islam?
Kurikulum TK Islam
Kurikulum TK Islam mengacu pada kurikulum sekolah taman kanak-kanak yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional Indonesia dan standar pendidikan kementrian agama dengan modifikasi atau tambahan yang disesuaikan dengan visi dan misi masing-masing lembaga pendidikan. Kurikulum tambahan tersebut pada umumnya bertujuan menunjang perkembangan keseluruhan aspek kecerdasan anak dengan berbagai kegiatan yang diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Penerapan Kurikulum TK Islam

  1. Pendidikan agama
    Dengan label taman kanak-kanak Islam, tentu pendidikan agama mendapat porsi yang cukup besar berdampingan dengan pelajaran yang lain. Pada TK Islam usaha untuk menumbuhkan keimanan anak-anak usia dini dilakukan dengan metode belajar dari alam semesta untuk menghayati kebesaran Tuhan, mendengarkan cerita kisah-kisah bernuansa islami, dan praktek ritual keagamaan untuk membiasakan mereka dengan kegiatan beribadah.
  2. Ilmu pengetahuan
    Selain pendidikan agama, TK-TK Islam juga tidak meninggalkan ilmu pengetahuan sebagai bekal kehidupan anak didiknya saat dewasa kelak. Proses pengajaran ilmu pengetahuan dilakukan secara sederhana sesuai dengan perkembangan dan pemahaman mereka melalui proses pengamatan, penyelidikan, bertanya, dan berdiskusi untuk menemukan rahasia alam semesta.
  3. Keterampilan
    Perkembangan kecerdasan dan kreativitas anak didik, dapat dicapai dengan berbagai latihan keterampilan seperti misalnya, menggunting dan menempel, mewarnai gambar, membuat berbagai model benda dengan plastisin dan sebagainya. Kegiatan belajar yang dilakukan dalam koridor bermain ini secara tidak langsung akan memberikan manfaat bagi siswa seperti melatih kinerja otot, merangsang kreativitas, dan kecerdasan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lembaga formal taman kanak-kanak yang menerapkankurikulum TK Islam tetap tidak meninggalkan pengajaran ilmu pengetahuan sebagai bekal kehidupan anak didik, dan latihan keterampilan yang bermanfaat sebagai pengembangan diri mereka.

Buku PROPHETIC PARENTING

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments

Judul Buku : PROPHETIC PARENTING
Penulis: DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid
Harga Buku : Rp 85.000.00


Berdasarkan kajiannya terhadap Sirah Nabawiyah dan As-sunnah, penulis mengungkapkan bahwa pendidikan bagi anak bermula dari ketika kedua orangtua menikah. Kemudian hubungan kedua orangtua, kesalehan mereka dan kesepakatan mereka dalam melakukan kebajikan, memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam membentuk sisi psikis dan kecenderungan bagi sang anak.

Dalam buku ini penulis mengetengahkan pentingnya pertumbuhan anak di gendongan ibunya, keluarganya dan lingkungannya serta hubungan kekerabatan dengan kedua orangtua dan karib-kerabatnya. Juga tentang pentingnya menjaga nilai-nilai islami dalam masa pertumbuhannya dan membiasakannya untuk selalu berpikir.

Penulis juga menekankan tentang pentingnya memakai berbagai media dan alat peraga yang sesuai dengan usia anak. Itu semua beliau simpulkan dari metode pendidikan Islam, hadis-hadis Nabi Shallallâhu ’alayhi wa Sallam dan pernyataan para pakar pendidikan Islam.

“Setiap keluarga Muslim membutuhkan buku ini untuk diletakkan dalam perpustakaan pribadi dan ditelaah, kemudian seluruh petunjuk kenabian yang terdapat di dalamnya diaplikasikan dalam bentuk amal nyata.”
Doktor Mahmud ath-Thahhan
(Ketua Jurusan Tafsir dan Hadits, Fakultas Syariah Universitas Kuwait)


Untuk pemesanan bisa melalui Kontak Kami di sini >> PESAN

Contoh Pembelajaran Aqidah PAUD

Posted by Setiadi Susilo On 0 comments



PAKET PEMBELAJARAN AQIDAH 
SEMESTER GANJIL
TAHUN AJARAN 2013-2014

MINGGU KE
MATERI
URAYAN
1
Rukun iman yang 6
-santri mengetahui rukun iman yang 6(lagu)
2
Allah tuhan ku yang satu
-santri mengetahui Allah itu satu (lagu)
3
Malaikat menjaga ku
-hafal nama-nama malaikat dan tugas nya  (lagu)
4
Allah maha pemberi rizki
-AR-ROJAK= maha pemberi rizki  ter motifasi senantiasa ber doa kepada-NYA
5
Allah itu mencintai keindahan
-Hafalan hadits keindahan
6
Allah itu mencintai keindahan
-hafalan hadits keindahan
7
Allah selalu d samping ku
Termotifasi untuk berperilaku ihsan
8
Aku keluarga muslim
-bangga hidup dalam lingkungan keluarga  muslim
9
Tidur dan mimpi
-memahami terjadinya mimpi ,timbul kekuatan mental untuk tidak terpengaruh oleh mimpi buruk
10
11
Allah menyukai kebersihan
-Hafal hadits tentang kebersihan
12
Bagai mana Allah menurut ku ?
-Allah itu Khalik;ber beda dengan mahluk nya
13
Masjid tempat sholat ku
-fungsi masjid /doa masuk masjid
14
Al-Quran kitab suci ku
-sejarah turun nya al-Quran
15
Allah selalu di samping ku
-termotifasi untuk berprilaku ihsan